Ketenangan Diri di Tengah Tuntutan Hidup

Pesatnya laju perkembangan jaman dan semakin kompleksnya usaha manusia untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari membawa dampak semakin sibuk manusia dalam melakukan kegiatan sehari-hari.
Manusia selalu dihadapkan pada masalah-masalah yang mengakibatkan (tanpa disadari) ketegangan pada otot dan syaraf dalam tubuh.

Sering manusia mengadu dan mengeluh, betapa sulitnya menemukan “ketenangan diri”. Apalagi hidup di tengah-tengah tuntutan yang bermacam-macam. Tuntutan profesi, kebutuhan keluarga, cita-cita dan bahkan tuntutan ambisi.
Kompleksnya tuntutan tersebut memicu manusia untuk melakukan kesibukan demi hasil dari berbagai macam tuntutan-tuntutan tersebut.

Ironisnya, berbagai macam tuntutan tersebut tidak mengenal batas akhir. Artinya, setelah mencapai tuntutan yang diharapkan tuntutan yang lain sudah siap bahkan menumpuk di depan mata dan bahkan tuntutan yang lain tersebut lebih besar atau lebih tinggi.
Sungguh perjalanan hidup ini selalu berpacu dengan berbagai tuntutan dan berburu hasil. Hidup seakan-akan berada dalam “pusaran tuntutan”.
Manusia tidak mampu berkelit dari realitas kehidupan.

Wajar, bila ada yang mengatakan bahwa manusia sekarang seperti mesin yang memiliki tombol. Begitu tombol ditekan , maka manusia bergerak dan berjalan untuk bekerja. Benar-benar manusia diperbudak oleh tuntutan-tuntutan tanpa batas. Bagai cakrawala, bila didekati maka semakin menjauh dan meninggi.

Apabila tuntutan itu tidak atau belum terpenuhi, bisa mengakibatkan manusia terjerumus dalam lembah kegusaran, kekacauan, kecemasan, kekhawatiran dan selalu dikejar rasa penasaran. Jika manusia selalu berada dalam situasi demikian, maka keadaan tersebut meruapak potensi kuat untuk mengantarkan manusia berada dalam sitiasi “terombang-ambing” tanpa adanya ketenangan batin.

Situasi dan keadaan tersebut menjadikan manusia sering bersikap dan bertindak di luar kerangka pola pikir kemanusiaannya. Sikap dan tindakannya tidak terkontrol, tidak terkendali, sehingga merupakan pelampiasan pikir dan isi hati yang labil atau tidak menentu.

Mereka tentu tidak ingin berada dalam situasi terombang-ambing, walau memiliki berbagai tuntutan yang belum tercapai.

Oleh karena itu harus memiliki “ketenangan diri” yang memadai.
Ketenangan diri inilah yang mampu mengatasi segala persoalan yang sering mengganjal dan menghadang perjuangan hidup manusia.

KESTABILAN MENTAL

Kita harus berupaya agar selalu berada pada tataran ketenangan diri yang mengacu pada kestabilan mental berdasarkan kesatuan cipta, rasa dan karsa dalam satu keutuhan jiwa.

Bagaimana kenyataanya ? Tidak mudah untuk memperoleh ketenangan diri.
Banyak orang yang mengeluh dan berada pada kerisauan diri, pikirannya kusut, terlalu sensitif bahkan psikis stress, sehingga kurang memiliki respon komunikatif dalam bergaul. Hal ini menyebabkan manusia menjadi apatis.

MELATIH KETENANGAN DIRI

Langkah-langkah Latihan :
a. Menyiapkan diri.
Menyiapkan diri ini adalah meningkatkan keteguhan dan keyakinan.

b. Ambil posisi duduk bersila dengan punggung dan leher atau tengkuk tegak. Hal ini untuk memperlancar peredaran darah dari tulang belakang atau tulang ekor lebih lancar. Letakkan kedua pergelangan di atas kedua lutut dengan telapak tangan menghadap ke atas.

c. Kuatkan niat untuk latihan ketenangan diri dengan mengacu pada kesatuan rasa dan pikir. Pusatkan konsentrasi dengan memadukan gerak pikir dan batin untuk menimbulkan getaran jiwa , akhirnya dapat membangkitkan kesadaran untuk berlatih ketenangan.

d. Pengolahan napas.
Lakukan napas biasa dengan cara tarik (hirup) – simpan (tekan) – buang )hembuskan).
Konsentrasi tertuju pada irama saat tarik-simpan-buang secara halus. Saat tarik dan buang napas harus dirasakan dengan benar dan intensitasnya melalui kedua telapak tangan.
Rasakan aliran napas melalui kedua telapak tangan.

e. Pada saat berkonsentrasi yang dipadukan dengan olah napas akan lebih baik jika dibarengi membaca doa dalam batin. Doa ini dapat mendasari gerak irama napas dan pemusatan konsentrasi.
Perpaduan ini mampu mengerahkan seluruh potensi psikis tersalur melalui aliran napas sesuai yang diinginkan.

Pada saat menarik dan menyimpan atau menekan napas, harus mampu merasakan adanya GUMPALAN RASA NEGATIF dalam diri, misalny rasa takut, benci, marah, risau, kesal, emosi, stress dan lain-lain.
Gumpalan rasa negatif tersebut harus mampu kita cairkan dan secara pelan-pelan kita alirkan, kita lepaskan melalui telapak tangan bersama-sama kita melepas atau membuang napas.
Kedua telapak tangan akan mengeluarkan angin atau getaran sebagai tanda mencairnya gumpalan rasa negatif.

<CATATAN :
Apabila seluruh tahapan di atas dilakukan, akan menimbulkan ketegangan dan kelelahan fisik dan psikis. Maka harus dinetralkan dengan cara menghentikan latihan untuk sementara.
Kendorkan dan lemaskan seluruh otot dan syaraf tubuh.
Lakukan gerakan-gerakan yang dapat menghilangkan beban atau ketegangan fisik dan psikis. Lakukan gerakan yang seleluasa mungkin.
Jika sudah hilang rasa tegang tersebut mulailah lagi untuk berlatih ketenangan diri.

SELAMAT BERLATIH.

Kematangan jiwa yang mapan hanya bisa diraih jika sudah mampu menempatkan ketenangan dalam diri.

>>>>>> Kembali ke Laman Depan (Beranda) >>> Klik Avatar (gambar paling atas)<<<<<<

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s